Kumo Desu ga, Nani ka? Volume 1 Chapter 2 – S1

Berakhirnya Kehidupan Normal

Itu terjadi di hari yang benar-benar biasa. Seperti pergi ke sekolah, mengobrol dengan teman-teman, mengikuti kelas, pulang dan bermain video game, makan malam, mandi dan tidur. Itulah seharusnya.

Hari itu, aku pergi sekolah sambil mengusap mataku yang mengantuk.

Aku terjaga sampai larut malam karena bermain game online dan sekarang aku medapatkan imbasnya.

Begitu sampai di sekolah, aku memasuki ruang kelas sambil menahan ngantuk.

"Pagi!"

"Selamat Pagi."

"Pagi... Ada apa? Kau terlihat lelah."

Menyapa teman sekelasku, Kyouya Sasajima dan Kanata Ooshima.

Kedua nya bermain game yang sama denganku, jadi pada dasarnya mereka adalah teman bermain ku.

"Ya, aku membentuk pesta penjemputan baldie kemarin, kamu tidak akan percaya itu."

"Sungguh!"

"Ya, sungguh. Jadi aku cukup banyak melakukan all-nighter."

"Tidak mungkin. Kamu serius? Kapan terjadi? Apa setelah aku keluar?"

Kanata telah bermain denganku beberapa jam malam itu, Dia logout sebelum ku, dengan alasan ingin tidur.

"Sialan. Jika aku tau itu akan terjadi, aku akan bermain sedikit lama lagi."

Dia tampak benar-benar kecewa. Tapi aku hanya mencari pesta tersebut karena dia telah keluar. Aku mungkin tidak akan bertemu dengan Baldie jika dia masih bermain.

"Begitu, bagaimana rasanya melihat Baldie dari dekat?" Pertanyaan Kyoya membawa kembali kenangan atas tindakan heroik Baldie.

"Orang itu, tidak mungkin manusia, yo." kataku. "Apa kamu percaya dia menghindari sihir dari penyihir Besbel dan menyerang."

"Sial, serahkan semuanya pada Baldie. Mereka tidak akan memanggilnya Skanda secara gratis."

"Tidak, tidak peduli seberapa bagus speedster kamu, kamu perlu lengan yang bagus untuk melakukan trik seperti itu. Akhirnya selalu berakhir begini." Kanata memukul lengan nya sendiri sambil berbicara.

Cukup benar, bahkan jika aku memiliki statistik dan peralatan yang sama dengan Baldie, aku ragu bisa mencapai prestasi sepertinya.

"Ahh... Aku ingin terlahir di dunia game."

Berharaplah sepuasmu. Ingin melakukan grinding setelah pulang sekolah?

"Ya, tentu."

"Aku juga ikut, mari berlatih di tempat yang sulit."

Part 2

Tepat setelah percakapan kami selesai, bel sekolah pun berbunyi, kamipun mengambil tempat di meja yang bertebaran.

Kami tidak tahu, bahwa kami tidak dapat memebuhi janji tersebut.

"Hah?"

Ketika aku sampai di tempat duduk dan mulai bersiap untuk kelas, aku menyadari bahwa aku lupa memasukkan kotak pensil ke dalam tas.

Setelah berpikir sejenak, aku ingat mengeluarkannya saat ingi menulis beberapa info game di buku catatan. Aku mungkin lupa memasukkannya kembali.

"Ah, sial."

"Apa ada yang salah?" Yuika Hasabe, gadis yang duduk di sebelahku, menanggapi kata kasarku.

"Aku lupa kotak pensilku."

"Oh, benarkah? Yah, kalau begitu aku bisa meminjamkan ini." Hasabe memberiku pensil dan penghapus.

"Terima kasih."

"Mm-hmm. Kamu berhutang permen kepadaku."

"Hoo, kamu menagihku?" Aku mengerang, tapi aku tersenyum masam dan melambaikan tangan sebagai tanda terima kasih. Tentu saja, sekarang aku tahu bahwa ini hanyalah janji lain yang tidak akan terpenuhi.

Kemudian, selama pelajaran sastra klasik, hal itulah terjadi.

Sangat lelah... Aku berjuang untuk menahan rasa kantukku yang luar biasa.

"Baiklah, kalau begitu. Perhatikan, tolong! Berikutnya halaman 37 di buku text, mulai baris pertama. Mari kita minta kepada Ms. Shinohara menerjemahkannya, bolehkah, karena dia mengintip ponsel di tengah pelajaran."

"Hah?"

Mendengar namanya, Mirei Shinohara Panik dan segera menyembunyikan ponselnya.

Di kursi sebelahnya, Kengo Natsume sedang menahan ejekannya, tapi dia dengan jelas mengutak-atik ponsel juga.

"Aku tidak puas, Natsume-kun. Jika Shinohara tidak bisa menjawabnya, maka kamu selanjutnya, okaaay?"

Guru Kami - Nn. Kanami Okazaki, meskipun kami memnggilnya Mc. Oka - telah memperhatikan tangan Natsume juga, yang memicu beberapa orang terkekeh.

Wajah Natsume memerah, dan dia cemberut ketika seluruh kelas menertawakan nya.

Orang yang tertawa paling keras adalah teman terdekat Natsume, Issei Sakurazaki, yang telah berbalik dari kursi depan hanya untuk menunjuk dan tertawa.

"Sekarang, tolong tenanglah. Jawaban anda, Ms. Shinohara?"

Part 3

Pada akhirnya, baik Shinohara maupun Natsume tidak dapat menjawab, dan tawa berikutnya pun menghujani kami.

Suasana kelas tetap rileks ketika Oka mulai membaca dengan keras.

Bagiku, suara nya seperti lagu pengantar tidur.

Aku tahu jika aku tidak melakukan apa-apa mungkin aku akan tertidur. Jadi aku melihat keatas dari buku text.

Hampir semua siswa memperhatikan buku mereka.

Kemungkinan besar, mereka berpikir jika bermalasan, mereka akan berakhir seperti Natsume dan Shinohara.

Nn. Oka biasanya sangat baik dan ramah, tetapi jika dia memergokimu bolos atau bermain-main, dia bisa menjadi penyiksa.

Sementara itu, mataku berhenti pada siswa tertentu.

Yang menarik perhatianku adalah gadis yang duduk di sebelah kiri ku. Kami memanggilnya Rihoko, tapi ini bukan nama aslinya.

Itu adalah kependekan dari "Real Horror" dangan "ko" di akhir, untuk menjadikan nama untuk seorang gadis.

Dia sangat menyeramkan, semuanya kulit dan tulang, dengan wajah pucat dan masam secara permanen.

Aku tidak suka mengomeli seseorang. tapi meskipun begitu, ada sesuatu tentang dia yang tidak cocok denganku.

Seolah-olah mengesampingkan perjuanganku menahan rasa kantuk, dia tidur dengan terang-terangan.

Dengan tidak nyaman, aku mengalihkan pandangan dari Rihoko.

Dan kemudian aku melihatnya, Retak.

Aku tidak berpikir orang lain akan menyadarinya.

Di tengah kelas, di atas kepala kami di tempat biasanya kosong, ada keretakan di udara. Bukan hanya itu, Aku tidak tahu harus memanggilnya apa. Itu di perluas dan tampak seperti akan meledak kapan saja.

Meski aku menatapnya langsung, aku sangat terkejut hingga tidak dapat melakukan apa-apa.

Bahkan jika aku mengambil tindakan, itu tidak akan mengubah apapun.

Retakan itu terbelah dan terbuka lebar. Pada saat yang sama aku merasakan sakit yang intens dan mengerikan.

Dan kemudian saya - Tidak, kami semua Mati.

Comments